Kolom

Sisi Gelap Keadilan Terhadap Sepakbola Dunia !

Agustus 04, 2023
Beranda
Kolom
Sisi Gelap Keadilan Terhadap Sepakbola Dunia !
Ngajihukum.comMasyarakat Indonesia tampaknya harus mengubur dalam-dalam keinginannya untuk bisa menyaksikan tim nasional sepakbola Indonesia bisa bertanding di ajang piala dunia U20.

Sebelumnya pada November 2019 lalu, Presiden Jokowi bertemu dengan Presiden FIFA yaitu Geovanni Vincenzo Infantino di Bangkok, Thailand. Pertemuan tersebut dalam rangka persiapan turnamen piala dunia U20 yang rencananya akan digelar di tanah air tepatnya di Bali. Sejak saat itu, Indonesia mulai mempersiapkan kesiapannya sebagai tuan rumah piala dunia U20 yang telah dijadwalkan akan dilaksanakan pada 20 Mei hingga 11 Juni 2023.

Namun, nampaknya Indonesia akan melanjutkan mimpinya kembali untuk bisa tampil dan menjadi tuan rumah diajang sepakbola Piala dunia U20.

Pasalnya, FIFA baru saja mencoret nama Indonesia sebagai tuan rumah serta sebagai peserta piala dunia U20. Keputusan FIFA ini tentu menjadi keputusan yang kontroversial. Alasan FIFA mencoret nama Indonesia sebagai tuan rumah piala dunia U20 tentu bukan tanpa sebab.  

Penolakan sebagian besar masyarakat Indonesia terhadap kedatang timnas Israel menjadi salah satu penyebab FIFA mencoret nama Indonesia pada pesta piala dunia U20 2023.

Penolakan tersebut juga didukung oleh beberapa tokoh-tokoh besar di Indonesia seperti Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Gubernur Bali I Wayan Koster, Tokoh Partai PDI dan PKS, Kyai Said Aqil Siradj selaku mantan Ketua Umum PBNU, Rocky Gerung, Najwa Shihab, Mahfud MD, serta beberapa tokoh lainnya juga mengikutsertakan dirinya untuk menolak kedatangan timnas Israel di Indonesia.

FIFA memandang bahwa pihaknya tidak bisa mentolerir tindakan diskriminasi yang dilakukan oleh sebagian masyarakat Indonesia terhadap timnas Israel. 

Kemudian FIFA juga kembali menyoroti tragedi Kanjuran yang telah menewaskan lebih dari 150 supporter Aremania. Tragedi ini menjadi salah satu tragedi yang mengenaskan di sepakbola dunia.

Sebagian masyarakat Indonesia serta beberapa tokoh besar Indonesia menolak timnas Israel untuk datang ke Indonesia juga bukan tanpa sebab. Kami warga negara Indonesia hingga saat ini belum bisa menerima perlakuan yang sudah dilakukan oleh Israel terhadap bangsa Palestina. Sudah tidak terhitung lagi darah bangsa Palestina terhadap sikap para zionis Israel. 

Kemudian dasar penolakan ini juga telah tertuang dalam amanah UU Dasar 1945 yang menyebutkan pada alinea pertama Pembukaan Undang-undang Dasar 1945 berbunyi, Bahwa sesungguhnya Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.

Sebagaimana yang telah disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD yang menegaskan bahwa negara Indonesia tidak akan pernah membuka hubungan diplomatik dengan Israel selama kemerdekaan Palestina belum terwujud.

Pernyataan tersebut disampaikan Mahfud merespons polemik yang muncul berkaitan dengan kehadiran timnas Israel di Piala Dunia U-20 yang rencananya digelar di Indonesia pada Mei 2023 ini. Menurut seorang Mahfud sikap tersebut merupakan semangat yang juga dipesankan presiden pertama RI yaitu Bung Karno.

Ironisnya, sikap yang sudah ditunjukkan oleh sebagian masyarakat Indonesia dan para tokoh-tokoh bangsa ini juga bertentangan dengan sikap sebagian masyarakat Indonesia lainnya yang secara nyata kecewa dengan penolakan tersebut. Mereka berpandangan bahwa seharusnya sepakbola tidak boleh dicampuri dengan urusan politik. Akibat penolakan inilah akhirnya mimpi anak bangsa harus terkubur dalam-dalam.

Pernyataan tersebut tentu membuat saya heran dan harus geleng-geleng kepala. Mereka tidak sadar bahwa selama ini justru FIFA sendiri yang telah mencampuri sepakbola dengan politik. Kita bisa melihat sikap FIFA terhadap Rusia. FIFA mencoret timnas Rusia dari piala dunia Qatar 2022 lalu akibat invasi yang dilakukan oleh Rusia terhadap negara Ukraina.

Disisi lain, Israel juga telah menginvasi negara Palestina secara bertahun-tahun lamanya. Namun sikap FIFA terhadap Israel justru berbeda dengan sikap FIFA terhadap Rusia. Bukankah hal ini merupakan bentuk ketidakadilan yang nyata atas campur tangan politik kekuasaan? Sikap Israel terhadap negara Palestina merupakan bentuk diskriminasi yang nyata yang selama ini kita lihat namun sikap FIFA terhadap Israel justru seolah-olah menjadi salah satu negara yang dianakemaskan.

Tentu ini tidak dapat dibenarkan dengan alasan apapun. Israel selamanya akan menjadi negara pengecut yang berlindung dibalik ketiak FIFA, dan FIFA selamanya juga akan menjadi diktator dalam menahkodai sepakbola dunia.

Sepakbola memang menyatukan kita, namun bukan berarti karena sepakbola inilah kita membuka ruang terhadap Israel untuk bisa datang ke negara Indonesia. Kedatangan Israel ke negara Indonesia merupakan bentuk kemunafikan yang nyata.

Tidakkah kita sadar bahwa negara Palestina merupakan negara pertama sejak 6 Desember 1944 yang mengakui kemerdekaan bangsa Indonesia secara de facto. Padahal teks Proklamasi Kemerdekaan baru dibacakan oleh bung Karno dan Hatta di 17 Agustus 1945. Namun beberapa bulan sebelum teks tersebut dibacakan, Palestina adalah negara pertama yang mendukung kemerdekan Indonesia.

Jadi, marilah sejenak kita melihat sisi positif yang sudah dilakukan oleh sebagian warga dan tokoh-tokoh Indonesia atas sikapnya yang menolak kedatangan Israel di Indonesia. Penolakan ini adalah wujud nyata bahwa Indonesia memiliki karakter yang berani menentang ketidakadilan yang dilakukan oleh Israel terhadap negara Palestina.
Save Palestine, Save Indonesia !

Penulis : Teja Subakti (Ketua Trafalgar Law Office)