aqidah

Bagaimana Cara Mengetahui indikator Bahwa Taubat Kita Sudah Diterima?

Juni 04, 2022
Beranda
aqidah
Bagaimana Cara Mengetahui indikator Bahwa Taubat Kita Sudah Diterima?
Bagaimana Cara Mengetahui indikator Bahwa Taubat Kita Sudah Diterima?

Setiap manusia tentu tidak akan pernah luput dari yang namanya khilaf ataupun dosa. Maka, bagi seorang muslim, sudah menjadi keharusan untuk taubat dari setiap kesalahan yang dilakukannya, baik disengaja ataupun tidak. Ukuran besar kecilnya dosa tidak menjadi penghalang seseorang dalam melakukan taubat.

Lalu, hal yang seharusnya ada ketika sudah bertaubat adalah perilaku atau perbuatan yang dilakukan menjadi lebih baik serta diniatkan dan diupayakan untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Terkait taubat, bagaimana caranya supaya kita bisa mengetahui bahwa taubat yang dilakukan oleh kita itu sudah diterima? Berikut ini penjelasan dari UStadz Ammi Nur Baits.

Ada 2 hal yang perlu kita bedakan terkait nilai amal,

1.Syarat sah amal
2. Diterimanya amal

Untuk yang pertama, syarat sah amal

Manusia bisa mengukur, karena ini sifatnya dzahir. Seseorang bisa mempelajari apa saja syarat sah amal tersebut, sehingga mereka bisa menilai, apakah amal yang dia kerjakan telah diterima atau tidak.

Kapan sebuah amal bernilai sah?

Tentu saja ketika amal itu memenuhi semua ketentuannya. Memenuhi syarat, rukun, dan wajibnya, serta tidak ada unsur pembatalnya.

Anda bisa menilai shalat anda sah, ketika anda memahami bahwa shalat anda telah memenuhi syarat, rukun, dan wajib shalat. Serta anda tidak melakukan  pembatal shalat.

Sementara untuk yang kedua, diterimanya amal, tidak ada satupun manusia yang tahu. Karena ini semua kembali kepada Allah, Dzat yang kita sembah. Jangankan manusia biasa, sampaipun para nabi, mereka tidak mengetahui apakah amalnya diterima atau tidak.

Nabi Ibrahim ‘alaihis shalatu was salam, ketika beliau membangun ka’bah, beliau tidak tahu apakah amalnya diterima atau tidak. Sehigga beliau selama membangun ka’bah, banyak membaca do’a,

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Ya Rab kami, terimalah amal kami. Sesungguhnya Engkau Dzat yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. al-Baqarah: 127)

Wuhaib bin al-Warad ketika membaca ayat ini, beliau mengatakan,

يا خليل الرحمن، ترفع قوائم بيت الرحمن وأنت مُشْفق أن لا يتقبل منك

Wahai Ibrahim, Khalilurrahman, anda membangun dinding ka’bah, sementara anda takut amal anda tidak diterima… (Tafsir Ibnu Katsir, 1/427).

Karena itulah, terkait masalah diterimanya amal, manusia hanya bisa berharap. Memohon kepada Allah agar amalnya diterima oleh Allah. Tugas hamba adalah beramal sebaik mungkin, dan memastikan amalnya sah. Apakah amalnya diterima atau tidak, hamba hanya bisa berharap dan tidak bisa memastikan.

Tanda Taubat Diterima

Taubat termasuk diantara bentuk amal. Ada syarat sah taubat dan taubat yang diterima.

Untuk pertama, syarat sah taubat

Seperti yang pernah dijelaskan dalam beberapa artikel sebelumnya, syarat sah taubat ada 5:

1.Ikhlas. Artinya, dia bertaubat karena dorongan untuk beribadah kepada Allah

2. Al-Iqla’ (melepaskan), maksudnya adalah melepaskan dosa yang dia taubati

3. An-Nadam (menyesal), orang yang bertaubat harus benar-benar menyesali dosa yang dia taubati.

4. Al-Azm (tekad). Orang yang bertaubat harus memiliki tekad untuk tidak mengulang kembali dosanya.

5. Taubatnya dilakukan sebelum ditutupnya kesempatan taubat, yaitu ketika ruh sudah di tenggorokan atau matahari telah terbit dari barat.

Dan jika dosa itu terkait kedzaliman antar-sesama hamba, maka dia harus menyelesaikannya. Bisa dengan minta direlakan atau mengembalikan bentuk kedzaliman itu Ketika 6 unsur di atas ada pada saat orang itu bertaubat maka taubatnya sah. Apakah taubatnya langsung diterima? Allahu a’lam… kita hanya bisa berharap agar taubatnya diterima, dan mengiringi taubatnya dengan amal soleh.

Karena itulah, dalam banyak ayat, Allah mengajarkan agar mereka yang bertaubat, mengiringi taubatnya dengan berbuat ishlah (mengadakan perbaikan). Diantaranya, firman Allah,

إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ وَأَصْلَحُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Kecuali orang-orang yang taubat, sesudah (kafir) itu dan mengadakan perbaikan. Karena sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imran: 89)

“Mengadakan perbaikan” berarti berbuat baik untuk menghilangkan akibat jelek dari kesalahan yang pernah dilakukan.

Allah juga berfirman,

إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ وَأَصْلَحُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Kecuali orang-orang yang bertaubat sesudah itu dan memperbaiki (dirinya), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. an-Nur: 5)

Dan diantara tanda diterimanya amal seseorang adalah adanya amal soleh setelahnya. Hasan al-Bashri mengatakan,

إن من جزاء الحسنة الحسنة بعدها

“Bagian dari balasan kebaikan adalah kebaikan setelahnya.”

Ketika orang yang telah bertaubat, dia semakin dekat dengan syariat, semoga ini tanda taubatnya diterima oleh Allah. Dan yang tidak kalah penting, bagi anda yang telah bertaubat, bergabunglah dengan komunitas orang yang baik. Karena komunitas akan mengarahkan orang yang bertaubat agar tidak kembali melakukan pelanggaran dan perbuatan dosa yang telah dia taubati.

Wallahu a’lam bish shawab.